Kepo

Review Film Where The Crawdads Sing

Home / Kepo / Review Film Where The Crawdads Sing

Crawdads Banner

Where The Crawdads Sing tampaknya menjadi salah satu film lagi yang membagi pendapat antara para kritikus film vs. penonton umum. Di website RottenTomatoes pada saat tulisan ini dibuat, kritikus memberi skor 34% dari 191 review, sementara itu penonton umum memberi skor 96% dari 5000 lebih review terverifikasi. Sungguh cukup jauh perbedaan pendapat antara kedua kubu.

Perbedaan menjurang seperti ini bukan hal baru, Venom (2018, 30% vs. 80%) dan Uncharted (2022, 41% vs. 90%) sempat menggegerkan dunia perfilman dengan perbedaan pendapat antara kritikus vs. penonton umum pada masanya. Namun apapun skor yang dilayangkan oleh kritikus, sebagai penonton umum sekaligus penikmat film, sebuah karya baru bisa dinilai setelah filmnya ditonton sendiri. Entah itu suka atau tidak, akan kembali pada masing-masing orang yang menyaksikannya.

Hal ini cukup relevan untuk Where The Crawdads Sing, sebuah film thriller romansa yang diangkat dari novel karya Delia Owens (2018). Banyak yang menyerukan betapa film yang diproduseri oleh Reese Witherspoon (Big Little Lies) ini dibuat sangat dekat dengan versi novelnya, atau ada pula yang menyandingkan alur kisahnya sebagus The Notebook yang dikawinsilangkan dengan To Kill a Mockingbird. Lalu, seperti apa sih ceritanya?

The Marsh Girl

Crawdads Kya

Misteri menyelimuti kisah sang marsh girl (gadis paya), Catherine ‘Kya’ Clark (Daisy Edgar-Jones, Normal People) yang hidup sendirian di tengah-tengah paya North Carolina. Gadis pemalu, pendiam dan tak banyak berinteraksi dengan orang ini tiba-tiba dinyatakan sebagai tersangka pembunuhan seorang pemuda kaya, Chase Matthews (Harris Dickinson, The King’s Man) yang ditemukan tak bernyawa di bawah menara tua di Barkley Cove.

Tuduhan ini menggeliat setelah polisi menamukan bukti serat kain wol berwarna merah di tubuh korban yang sama seperti topi yang dimiliki oleh Kya. Belum lagi preseden pandangan negatif seisi penduduk kota terhadap gadis paya yang kotor dan dianggap asing, meski sejatinya ia tinggal tak jauh dari lingkungan mereka.

Untungnya tidak semua orang berpendapat buruk tentang Kya, ada pasangan suami istri kulit hitam Mabel (Michael Hyatt, The Little Things), dan Jumpin’ (Sterling Macer Jr., House of Lies) pemilik toko kelontong yang baik hati dan Tom Milton (David Strathairn, Nightmare Alley) yang kini menjadi pengacara pro bono untuk membela kasus Kya.

Seiring dengan berjalannya persidangan, penonton dibawa menyusuri dua alur waktu kisah kehidupan Kya, satu di masa lalu -kisah masa kecil Kya yang pilu dan ditinggal satu per satu oleh keluarganya, satu lagi di masa kini (persidangan). Banyak kisah terkuak dalam flashback yang dituturkan oleh Kya, termasuk hubungan romansanya dengan Tate Walker (Taylor John Smith, Blacklight) dan sang pemuda kaya, Chase Matthews. Perlahan tapi pasti penonton diajak menyusuri misteri pembunuhan ini. Siapakah pembunuh Chase Matthews yang sebenarnya?

Beautiful Serenity

Crawdads Sing

Bagi penonton yang tinggal dan hidup di Indonesia, terutama perkotaan, kondisi paya mungkin akan sangat susah untuk dibayangkan. Namun tangan dingin sutradara Olivia Newman (Chicago Fire) berhasil membawa penonton untuk menyelami seluk-beluk kehidupan di sebuah paya. Mulai dari hijau dan rindangnya vegetasi yang bertumbuh, hingga uniknya navigasi perjalanan antar lokasi yang memerlukan speedboat dari satu titik ke titik lain. Goresan gambar fauna yang ditoreh oleh Kya juga semakin membuat kehidupan di paya terasa lebih nyata.

Dari segi akting, tak perlu diragukan lagi bahwa pemeran Kya, Daisy Edgar-Jones benar-benar memberikan penampilan maksimal. Bagi mereka yang sudah membaca novelnya, pembawaan Kya versi Edgar-Jones ini sangat true to the book, alias hampir persis dengan penggambaran di bukunya. Gerak-geriknya, bahasa tubuhnya, dan bahkan mimik wajah Edgar-Jones terlihat berbeda dari masa ke masa seiring dengan perkembangan kehidupannya di film tersebut.

Filmnya sendiri memang tergolong slowburn, banyak elemen yang dibangun perlahan. Mungkin akan ada beberapa penonton yang bingung, sebetulnya ini film akan diarahkan kemana? Namun tetap bersabarlah, karena setelah semua elemen terkuak dan penonton menikmati langkah demi langkah perjalanan Kya, ending yang ditawarkan akan lebih dari cukup untuk membayar semua pertanyaan dan kesabaran penonton yang menyaksikannya. Just enjoy the beautiful serenity, nikmati kisahnya, latarnya dan sinematografinya. Perlahan tapi pasti, film berdurasi dua jam ini akan mengejutkan kamu dengan endingnya!

Where The Crawdads Sing sudah tayang di bioskop-bioskop di Indonesia mulai hari ini. Saksikan di bioskop-bioskop terdekat, ya!

Jangan lupa untuk LIKE kita di Facebook, Follow Twitter dan Instagram TipsPintar.com. Ditambah lagi, biar gak ketinggalan video-video menarik dari kita, jangan lupa Subcribe YouTube Channel TipsPintar.com

Dapatkan Tips Menarik Setiap Harinya!

  • Dapatkan tips dan trik yang belum pernah kamu tau sebelumnya
  • Jadilah orang pertama yang mengetahui hal-hal baru di dunia teknologi
  • Dapatkan Ebook Gratis: Cara Dapat 200 Juta / bulan dari AdSense
To Top