Uncategorized

Kenali Apa Itu Makruh dan Macam-Macam Jenisnya

Home / Uncategorized / Kenali Apa Itu Makruh dan Macam-Macam Jenisnya

Kenali Makruh

Sebagai umat muslim, Kita perlu memahami apa artinya makruh di dalam kehidupan, karena hal tersebut berkaitan dengan sesuatu yang boleh atau tidak boleh dilakukan sekaligus perbuatan yang disukai ataupun yang dibenci oleh Allah SWT.

Di samping arti wajib, sunah, ataupun haram yang mungkin sudah tidak asing lagi bagi Kamu, masih ada makruh dan mubah yang ternyata cukup banyak membuat orang-orang bingung.

Maka dari itu pada kesempatan kali ini TipsPintar akan memberikan rangkuman terkait penjelasan makruh dan juga macam-macam jenis yang perlu untuk Kamu ketahui.

Penasaran kan apa saja pembahasannya? Yuk, langsung aja simak baik-baik ulasan yang satu ini!

Apa Itu Makruh?

Apa itu Makruh?

Apa itu Makruh?

Makruh ini sendiri adalah suatu perbuatan yang dirasa jika meninggalkannya itu lebih baik daripada mengerjakannya.

Secara bahasa, pengertian makruh adalah “Sesuatu yang dibenci”, sedangkan dalam istilah Ushul Fiqh, kata makruh berarti sesuatu yang dianjurkan syariat untuk meninggalkannya, dimana jika ditinggalkan maka akan mendapat kebaikan dan apabila dilanggar pun juga tidak akan berdosa.

Mengenal Hukum Islam

Nah, sebelum Kamu memahami lebih dalam apa maksud/arti dari makruh ini, maka Kamu harus terlebih dulu mengetahui apa saja pembagian hukum dalam ajaran Islam.

Hukum ini sendiri memiliki arti sebagai norma (Norm) atau kaidah (Rule), yang memiliki makna sebagai ukuran, tolak ukur, atau patokan pedoman yang dipergunakan untuk menilai tingkah laku/perbuatan manusia.

Dalam hukum Islam sendiri terdapat lima hukum atau kaidah yang digunakan sebagai bentuk tolak ukur perbuatan manusia, baik dalam hal ibadah maupun tata cara hidup sehari-sehari. Kelima jenis kaidah tersebut adalah sebagai berikut:

1. Wajib (Fardhu)

Wajib

Wajib

Hukum Islam yang pertama ini dibedakan menjadi dua bagian yaitu kewajiban perorangan (Fardhu’ain) seperti pelaksanaan shalat, puasa Ramadhan, pembayaran zakat, dan juga fidyah.

Selain itu juga ada kewajiban kolektif (Fardhu Kifayah) atau dalam artian lain sebagai pemenuhan kewajiban oleh sejumlah individu yang membebaskan individu lain untuk melaksanakannya, seperti shalat jenazah dan juga jihad.

Hukum wajib ini juga terbagi menjadi 4 kewajiban, yakni bedasarkan waktu pelaksanaannya, kewajiban bagi orang yang melaksanakannya, kewajiban bagi ukuran/kadar pelaksanaannya, dan juga kandungan kewajiban perintahnya.

2. Dilarang (Haram)

Haram

Haram

Haram ini merajuk pada sebuah tindakan yang telah dilarang oleh Allah SWT langsung dan apabila Kamu tetap mengerjakannya maka akan mendapatkan dosa, sebaliknya jika Kamu meninggalkannya maka Kamu akan mendapatkan kebaikannya (Pahala).

Sebagai contoh, seorang laki-laki yang mengeluarkan air mani di saat bulan puasa ataupun menonton video porno.

3. Sunnah

Sunnah

Sunnah

Sebuah tindakan akan dikatakan Sunnah apabila seseorang yang mengerjakan perintah tersebut akan mendapatkan kebaikan (Pahala) dan jika tidak mengerjakannya pun tidak akan berdosa.

Namun, bagi sebagian besar orang menyarankan agar tetap menjalankan sunnah karena sayang jika melewatkan kesempatan untuk bisa mengumpulkan amal.

4. Makruh

Makruh

Makruh

Dikatakan makruh apabila aturan yang dimakruhkan ini di tinggalkan, maka itu akan jauh lebih baik. Namun jika hal yang dimakruhkan ini tetap dilakukan, maka akan menjadi kurang baik bagi Kamu. Hal baik yang dimaksud ini bukan hanya untuk sendiri, namun juga bisa bagi orang sekitarnya.

Sebagai contoh, jika Kamu merokok di sebuah tempat umum, maka dampak negatif dari rokok tersebut bukan hanya menimpa Kamu, tapi juga akan menimpa orang-orang yang berada di sekitar mu.

5. Mubah

Mubah

Mubah

Terakhir, ada kategori Mubah. Nah, kategori ini bisa dibilang sebagai kebalikan dari makruh, dimana hal yang dikatakan mubah ini adalah hal yang tidak akan mengandung dosa bila dilakukan ataupun tidak dilakukan.

Sebagai contoh dalam melakukan aktivitas makan, minum, berpakaian, ataupun berburu.

Secara bahasa, mubah ini sendiri berarti “Diizinkan” atau “Diperbolehkan”, seperti yang dikutip dari buku Hukum Islam dan Formulasi Hukum Indonesia karya Hikmatullah dan Mohammad Hifni.

Adapun teori lain mengenai mubah ini, yaitu mubah di artikan sebagai perbuatan yang memberikan pilihan kepada mukalaf (Seorang Muslim) untuk melakukannya ataupun meninggalkannya, jika ia lakukan maka tidak dijamin akan mendapatkan pahala, namun jika di tinggalkan juga tidak akan mendapatkan dosa.

Jenis-Jenis Makruh

Setelah Kamu memahami pembagian hukum dan arti dari makruh ini, Kamu juga perlu mengenali jenis-jenisnya. Nah, jenis makruh ini sendiri terbagi menjadi dua, yaitu makruh tahrim dan makruh tanzih.

1. Makruh Tahrim

Makruh Tahrim

Makruh Tahrim

Makruh tahrim merupakan sebuah hal yang dilarang oleh syariat secara pasti.

Makruh tahrim ini sendiri juga bisa di artikan sebagai sebuah tuntutan untuk meninggalkan suatu perbuatan secara pasti tetapi dalil yang menunjukkan hal tersebut bersifat Zhanni.

Sedangkan bagi kalangan jumhur ulama, makruh tahrim ini kebalikan dari hukum “Wajib” sekaligus kebalikan dari arti “Fardhu”, contohnya larangan menggunakan perhiasan emas bagi kaum laki-laki.

Contoh lainnya, shalat sunnah mutlak yakni shalat sunnah atau shalat tanpa sebab tertentu usai melaksanakan shalat Subuh ataupun shalat Ashar. Nah, hal tersebut masuk ke dalam kategori makruh tahrim seperti yang diriwayatkan oleh Imam Muslim serta Madzhab Syafi’i.

2. Makruh Tanzih

Makruh Tanzih

Makruh Tanzih

Makruh tanzih ini adalah sesuatu yang dianjurkan oleh syariat untuk meninggalkannya, tetapi larangan ini tidak bersifat pasti, jadi makruh tanzih ini bisa dibilang kebalikan dari hukum mandub.

Sebagai contoh, memakan daging kuda di saat waktu berperang atau contoh simpelnya, minum sambil berdiri, mengipasi makanan panas, memulai sesuatu dengan bagian tubuh sebelah kiri, serta meninggalkan amalan yang telah dianjurkan.

Perbedaan Makruh Tahrim dan Makruh Tanzih

Bedanya Tahrim dan Tanzih

Bedanya Tahrim dan Tanzih

Perbedaan makruh tahrim serta makruh tanzih ini terletak dari hukum yang akan ia terima.

Jika orang yang melanggar aturan dari makruh tahrim, ia akan terancam dengan dosa, sedangkan orang yang melanggar larangan makruh tanzih, maka ia tidak akan mendapat ancaman dosa.

Hal ini dikutip dari penjelasan Syekh Ibrahim Al-Baijuri yang mengatakan “Saat menemukan kata Makruh Tahrim dan kata Haram, maka kalian perlu mengingat jika orang yang melakukan perbuatan keduanya tetap akan mendapat dosa”.

والفرق بين كراهة التحريم والحرام مع أن كلا يقتضي الإثم أن كراهة التحريم ما ثبتت بدليل يحتمل التأويل والحرام ما ثبت بدليل قطعي لا يحتمل التأويل من كتاب أو سنة أو إجماع أو قياس

Artinya:

“Perbedaan antara makruh tahrim dan haram–sekalipun keduanya menuntut dosa–adalah makruh tahrim adalah perbuatan terlarang yang didasarkan pada dalil yang mengandung ta’wil. Sedangkan haram adalah perbuatan terlarang yang didasarkan pada dalil qath‘i yang tidak mengandung kemungkinan penakwilan baik dalil Al-Qur‘an, sunnah, ijmak, atau qiyas.”

Nah, dari penjelasan tersebut, Kamu bisa tarik kesimpulan bahwa jika perbedaan dari makruh tahrim dan haram terletak pada karakter sumber dalilnya.

Apabila larangan sebuah perbuatan datang dari dalil yang memungkinkan takwil, maka hal terlarang tersebut masuk ke dalam makruh tahrim.

Akan tetapi jika larangan sebuah perbuatan datang dari dalil qath’i yang tidak bisa ditakwil, maka hal terlarang tersebut termasuk dengan haram.

Makruh dalam Puasa Ramadhan

Makruh di bulan puasa

Makruh di bulan puasa

Nah, kalau tadi Sobat Pintar sudah mengetahui maksud dari Makruh berserta macam-macam jenisnya, sekarang Kamu juga harus tau nih jenis makruh apa saja yang sebaiknya tidak Kamu lakukan di bulan puasa Ramadhan:

  • Berciuman suami istri.
  • Berlebihan dalam penggunaan wangi-wangian ataupun mandi terlalu lama.
  • Tidur terlalu lama saat menjalankan puasa.
  • Berkhayal kotor seperti sedang berjimak (Bersetubuh).
  • Mencicipi makanan.
  • Berlebihan dalam berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung pada saat berwudhu.
  • Sikat gigi di saat matahari sudah mulai terbit (Mulai memasuki waktu untuk berpuasa).
  • Melakukan bekam.

Kesimpulan

Nah, itulah sedikit rangkuman terkait penjelasan makruh beserta macam-macam jenisnya yang perlu Sobat Pintar ketahui.

Kesimpulannya, melakukan hal yang memang dinilai makruh akan lebih baik untuk tidak dilakukan apalagi jika hal tersebut sudah menjadi ketentuan/anjuran dalam syariat Islam.

So, semoga informasi ini bisa jadi manfaat bagi Kamu ya. Jangan lupa juga untuk share artikel ini ke kerabat ataupun saudara-saudari mu yang sekiranya membutuhkan pemahaman terkait makruh ini.

Dan kalau Kamu mempunyai kritik/saran untuk pembahasan menarik lainnya, Kamu bisa tulis di kolom komentar ini ya!

Artikel Menarik Lainnya!

Jangan lupa untuk LIKE kita di Facebook, Follow Twitter dan Instagram TipsPintar.com. Ditambah lagi, biar gak ketinggalan video-video menarik dari kita, jangan lupa Subcribe YouTube Channel TipsPintar.com

Dapatkan Tips Menarik Setiap Harinya!

  • Dapatkan tips dan trik yang belum pernah kamu tau sebelumnya
  • Jadilah orang pertama yang mengetahui hal-hal baru di dunia teknologi
  • Dapatkan Ebook Gratis: Cara Dapat 200 Juta / bulan dari AdSense
To Top